Amanah Aqiqah

Aqiqah menurut syara’ berarti menyembelih kambing untuk anak pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Pendapat Para Fuqaha Tentang Disyari’atkannya Aqiqah

Ada tiga pendapat para ahli fiqih dan imam mujtahid tentang

disyari’atkannya aqiqah:

Pertama: Mereka yang berpendapat disunatkan dan dianjurkan, yaitu

Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya,

Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan sebagian besar ahli fiqih, ilmu dan

ijtihad. Mereka berargumantasi dengan hadits-hadits yang telah disebutkan.

Mereka juga menolak pendapat orang-orang yang berpendapat bahwa aqiqah

itu wajib dengan ungkapan sebagai berikut:

a. Jika aqiqah itu wajib, tentu kewajibannya akan diketahui dalam ad-

din. Sebab, ini merupakan tuntutan. Dan tentu Rasulullah saw, akan

menjelaskan wajibnya kepada umat dengan suatu keterangan yang

diperkuat dengan hujjah.

b. Rasulullah saw, telah menggarisbawahi persoalan aqiqah ini dengan

kesukaan orang yang melakukannya. Beliau bersabda:

Barang siapa yang dikaruniai seorang anak, lalu ia menyukai

untuk membaktikannya (mengaqiqahinya), maka hendaklah ia

melalukannya.

c. Perbuatan Rasulullah saw, di dalam persoalan aqiqah ini tidak menunjukan

hukum wajib. Tetapi menunjukan suatu anjuran.

Kedua: Pendapat yang mengatakan bahwa aqiqah itu diwajibkan. Mereka

adalah Imam Al-Hasan Al-Bashri, Al-Lits Ibnu Sa’ad dan lain-lain. Mereka

berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan Muraidah dan Ishaq bin

Ruhawiah:

Sesungguhnya manusia pada hari kiamat nanti akan dimintakan

pertanggungjawabannya

pertanggungjawabannya atas shalat-shalat lima waktu.

Wajah istidlal-nya (pengambilan dalilnya) adalah, bahwa anak itu tidak akan

dapat memberikan syafa’at kepada kedua orang tuanya sebelum di aqiqahi. Inilah

yang menguatkan kewajibannya.

Ketiga, pendapat yang menolak bahwa aqiqah itu disyariatkan. Mereka

adalah para ahli fiqih Hanafiyyah. Argumentasi yang dikemukakan adalah hadits

yang diriwayatkan Al-Baihaqi dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya

bahwa Rasulullah saw, ditanya tentang aqiqah, beliau menjawab:

aqiqah,

atas sebagaimana dimintai akan

Aku tidak menyukai aqiqahaqiqah.

Mereka juga berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam

Ahmad dari Abi Rafi’ ra, bahwa ketika ibu Al-Hasan bin Ali’, Fatimah ra, ingin

mengaqiqahinya dengan dua biri-biri, Rasulullah saw, bersabda:

Janganlah engkau mengaqiqahinya, tetapi cukurlah rambut kepalanya

dan bersedekahlah dengan perak sebanyak berat timbangan rambutnya

itu. Kemudian dilahirkanlah Husain dan ia melakukan seperti itu.

Kebanyakan ahli fiqih, ilmu dan ijtihad, bahwa zhahir hadits-hadits yang

telah disebutkan tadi menguatkan segi disunatkan dan dan dianjurkannya aqiqah.

Mereka telah menjawab hadits-hadits yang dijadikan sebagai argumentasi

para ahli fiqih Hanafiyyah tentang penolakan mereka terhadap disyariatkannya

aqiqah. Mereka mengatakan bahwa hadits-hadits yang dijadikan argumentasi

itu tidak berarti apa-apa dan tidak sah untuk dijadikan sebagai dalil terhadap

penolakan disyariatkannya aqiqah. Akan halnya Amr bin Syu’aib dari bapaknya

dari kakeknya bahwa Rasulullah saw, pernah bersabda, “Aku tidak menyukai

aqiqah-aqiqah”, maka siyaqu I-hadits (susunan katanya) dan sebab-sebab keluar

hadits itu menunjukan bahwa aqiqah adalah sunat dan dianjurkan. Lafazh hadits

itu sebenarnya adalah demikian: Rasulullah saw, ditanya tentang aqiqah. Beliau

menjawab, “Aku tidak menyukai aqiqah-aqiqah”. Seakan-akan beliau tidak

menyukai nama, yakni dinamakannya sesembelihan dengan aqiqah.1 Mereka

berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami hanya bertanya tentang salah

seorang diantara kami yang dikaruniai seorang anak”. Beliau bersabda, “Barang

siapa diantara kamu menyukai untuk membaktikan (mengaqiqahi) anaknya,

Dari zhahir hadits ini, segolongan fuqaha menganbil dalil bahwa kata-kata aqiqah itu

diganti dengan nasikah, karena Rasulullah saw, tidak menyukai nama aqiqah. Segolongan lain

mengatakan bahwa beliau tidak membenci nama itu, dan mereka berpendapat bahwa hal itu

adalah mubah, karena banyak hadits menamakan sembelihan itu dengan aqiqah.

Perpaduan antara kedua pendapat diatas, bahwa hendaknya seorang Muslim hendaknya

menggunakan kata-kata nasikah dan menjadikannya sebagai asal. Jika pada suatu ketika, ia

menggunakan nama aqiqah untuk menjelaskan hukum dan menerangkan maksud, maka hal itu

dibolehkan. Di sinilah terdapat titik temu hadits-hadits itu.

maka hendaklah ia melalukannya. Bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang

mencukupi dan bagi anak perempuan satu ekor kambing”.

Adapun istidlal mereka dengan hadits Abu Rafi’, “Janganlah engkau

mengaqiqahinya, tetapi cukurlah rambut kepalanya . . .”, tidaklah menunjukan

dimakruhkannya aqiqah. Sebab, Rasulullah saw, tidak suka membebani

Fatimah ra, dengan aqiqah, sehingga beliau bersabda, “Janganlah engkau

mengaqiqahinya . . .” dan beliau telah mengaqiqahi mereka berdua (Al-Hasan

dan Al-Husain). Maka sudah cukup bagi Fatimah untuk menyajikan makanan-

makanan saja. Di antara hadits-hadits yang menguatkan bahwa Rasulullah saw

telah mengaqiqahi mereka berdua adalah sebagai berikut:

Abu Daud meriwayatkan dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ra:

Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw, telah mengaqiqahi Al-Hasan dan

Al-Husain satu kambing satu kambing.

Jarir bin Hazim telah menceritakan dari Qatadah dari Anas:

Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw, telah mengaqiqahi Al-Hasan dan

Al-Husain dua kambing.

Yahya bin Sa’id telah menceritakan dari Amirah dari Aisyah bahwasanya

ia berkata:

Rasulullah saw, telah mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain pada hari

ketujuh (dari kelahiran mereka).

Ringkasnya, mengaqiqahi anak itu adalah sunat dan dianjurkan. Ini

menurut kebanyakan imam dan ahli fiqih. Oleh karena itu hendaklah orang

tua melakukannya, jika memang memungkinkan dan mampu menghidupkan

sunnah Rasulullah saw ini. Sehingga ia menerima keutamaan dan pahala dari

sisi Allah swt, dapat menambah makna kasih sayang, kecintaan dan mempererat

tali ikatan sosial antara kaum kerabat dan keluarga, tetangga dan handai

taulan, yaitu ketika mereka menghadiri walimah aqiqah itu, sehingga rasa turut

merasakan kebahagiaan atas lahir dan hadirnya sang anak. Di samping itu ia dapat

mewujudkan sumbangan jaminan sosial, yaitu ketika sebagian kaum fakir miskin

turut mengambil bagian di dalam aqiqah itu.

Alangkah agung dan luhurnya Islam serta dasar-dasar syariat di dalam

menanamkan rasa kasih sayang dan kecintaan di dalam masyarakat, termasuk di

dalam membina keadilan sosial dalam kelas-kelas masyarakat miskin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s